Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran
‘Pandangan
mata’ ternyata bukan perkara remeh. Darinya, bisa muncul berbagai macam
bahaya atau kejelekan bagi yang dipandang. Sekilas memang tak masuk
akal, namun banyak kenyataan menunjukkan sebaliknya.
Si kecil
tumbuh begitu lincah dan menggemaskan. Duhai, tak ada yang pantas
diucapkan selain rasa syukur kepada Rabb seluruh alam! Betapa bahagia
rasanya memandang dan menikmati segala tingkah dan celotehnya.
Tak
jarang komentar kekaguman berdatangan dari setiap mata yang memandang.
Namun ungkapan semacam itu terkadang dianggap tabu, hingga ayah atau
ibu biasanya segera menyergah, “Jangan dipuji, nanti jadi sakit lho!”
atau pun dengan tanggapan-tanggapan semacam.
Terkadang pula
terjadi, ayah dan ibu dibuat bingung karena buah hati mereka jatuh
sakit, rewel, atau turun berat badannya tanpa sebab yang pasti.
Pengobatan di dokter ahli sekalipun seakan tak membawa hasil.
Ada
apa sebenarnya di balik pujian? Benarkah pujian dapat menyebabkan si
buah hati jadi celaka? Ataukah ada faktor lainnya? Haruskah kita
mempercayai sesuatu yang rasanya sulit dicerna oleh akal itu?
Sesungguhnya
semua itu bukan semata akibat dari pujian yang terlontar, akan tetapi
berawal dari pandangan. Pandangan mata seseorang dapat berpengaruh
buruk pada diri orang yang dipandang, baik pandangan mata itu menatap
dengan kedengkian atau pun kekaguman. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
menyebutkan tentang adanya pengaruh pandangan mata ini melalui lisan
Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pandangan
mata, atau diistilahkan dengan ‘ain, adalah pandangan seseorang
terhadap sesuatu yang dianggap bagus disertai dengan kedengkian yang
muncul dari tabiat yang jelek sehingga mengakibatkan bahaya bagi yang
dipandang. (Fathul Bari, 10/210)
Hal ini dijelaskan pula oleh
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa ‘ain itu
benar-benar ada dan telah jelas adanya secara syar’i maupun indrawi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan hampir-hampir orang-orang kafir itu menggelincirkanmu dengan pandangan mereka.” (Al-Qalam: 51)
Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan selain beliau menafsirkan ayat ini
bahwa orang-orang kafir itu hendak menimpakan ‘ain kepadamu dengan
pandangan mata mereka.
Demikian pula Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keberadaan ‘ain ini, sebagaimana
disampaikan oleh putra paman beliau, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“‘Ain
itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir,
tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi,
maka mandilah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2188, Fatawa Al-Mar’ah
Al-Muslimah, 1/164-165)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah
mengatakan, hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan
takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak akan terjadi kecuali sesuai
dengan apa yang telah Allah takdirkan serta didahului oleh ilmu Allah
tentang kejadian tersebut. Sehingga, tidak akan terjadi bahaya ‘ain
ataupun segala sesuatu yang baik maupun yang buruk kecuali dengan
takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari hadits ini pula terdapat
penjelasan bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan memiliki kekuatan untuk
menimbulkan bahaya. (Syarh Shahih Muslim, 14/174)
‘Ain dapat
terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman walaupun tidak disertai
perasaan dengki (hasad). Demikian pula timbulnya ‘ain itu tidak selalu
dari seseorang yang jahat, bahkan bisa jadi dari orang yang menyukainya
atau pun orang yang shalih. (Fathul Bari, 10/215)
Bahkan
di antara para shahabat yang notabene mereka itu adalah orang-orang
yang paling mulia setelah para nabi pun, terjadi ‘ain ini. Kisah
tentang hal ini dituturkan oleh Abu Umamah, putra Sahl bin Hunaif
radhiyallahu ‘anhu:
“‘Amir bin Rabi’ah pernah melewati Sahl bin
Hunaif yang sedang mandi, lalu ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat
seperti hari ini dan aku tak pernah melihat kulit seperti kulit wanita
yang dipingit.’ Tidak berapa lama, Sahl terjatuh. Kemudian dia
didatangkan ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang
pun mengatakan kepada beliau, ‘(Wahai Rasulullah), segera selamatkan
Sahl, ia telah terbaring.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
‘Siapa yang kalian tuduh dalam hal ini?’ Mereka menjawab, ‘Amir bin
Rabi’ah.’ Beliau pun berkata, ‘Atas dasar apa salah seorang di antara
kalian hendak membunuh saudaranya? Apabila seseorang melihat sesuatu
yang menakjubkan dari diri saudaranya, hendaknya ia mendoakan kebaikan
padanya.’ Kemudian beliau meminta air dan memerintahkan ‘Amir untuk
berwudhu’, maka ‘Amir pun membasuh wajahnya, kedua tangan hingga
sikunya, kedua kaki hingga lututnya, serta bagian dalam sarungnya. Lalu
beliau memerintahkan untuk menuangkan air itu pada Sahl.” (HR. Ibnu
Majah no. 3500, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul
Jami’ no. 3908/4020 dan Al-Misykah no. 4562)
Tergambar pula
dengan jelas dalam kisah ini, apa yang dilakukan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pada seseorang yang terkena ‘ain.
Demikian pula dalam perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“‘Ain
itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir,
tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi,
maka mandilah.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan
bahwa perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini
menunjukkan, apabila seseorang diketahui menimpakan ‘ain, maka ia
diminta untuk mandi, dan mandi ini merupakan cara pengobatan ‘ain yang
sangat bermanfaat. Dituntunkan pula bila seseorang melihat sesuatu yang
mengagumkan hendaknya segera mendoakan kebaikan padanya, karena doanya
itu merupakan ruqyah (pengobatan) baginya. Beliau juga menyatakan bahwa
‘ain yang menimpa seseorang dapat mengakibatkan kematian. (Fathul Bari,
10/215)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan
untuk melakukan ruqyah, yaitu pengobatan dengan Al Qur’an dan
dzikir-dzikir kepada Allah, terhadap orang yang terkena ‘ain. Beliau
memerintahkan hal itu pula kepada istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkannya untuk melakukan ruqyah dari ‘ain.” (Shahih, HR.
Al-Bukhari no. 5738 dan Muslim no. 2195)
Begitu pula yang beliau
perintahkan ketika melihat seorang anak perempuan yang terkena ‘ain
pada wajahnya. Peristiwa ini dikisahkan oleh istri beliau, Ummu Salamah
radhiyallahu ‘anha:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah melihat seorang anak perempuan di rumah Ummu Salamah yang pada
wajahnya ada kehitam-hitaman. Beliau pun berkata, ‘Ruqyahlah dia,
karena dia tertimpa ‘ain’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5739 dan Muslim
no. 2197)
Diceritakan pula oleh Jabir bin ‘Abdullah ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh agar anak-anak Ja’far
bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu diruqyah:
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ bintu ‘Umais, “Mengapa aku lihat
anak-anak saudaraku kurus-kurus? Apakah karena kekurangan?”. Asma’
menjawab, “Bukan, akan tetapi mereka cepat terkena ‘ain.” Beliau pun
berkata, “Ruqyahlah mereka!”. Asma’ berkata: Maka aku serahkan urusan
ini kepada beliau, lalu beliau pun berkata, “Ruqyahlah mereka.”
(Shahih, HR. Muslim no. 2198)
Bahkan Jibril ‘alaihis salam pernah meruqyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sakit dengan doa:
“Dengan
nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitkanmu dan
dari setiap jiwa atau pandangan yang dengki. Semoga Allah
menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (Shahih, HR. Muslim
no. 2186)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa
memohon perlindungan dari ‘ain, sebagaimana dikabarkan oleh shahabat
yang mulia, Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari jin dan
pandangan manusia, hingga turun surat Al-Falaq dan surat An-Naas.
Ketika keduanya telah turun, beliau menggunakan keduanya dan
meninggalkan yang lainnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2059 dan Ibnu Majah
no. 3511, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah
no. 2830)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
rahimahullah mengatakan bahwa menjaga diri dari ‘ain boleh dilakukan
dan bukan berarti meniadakan tawakkal kepada Allah. Bahkan sikap
demikian ini termasuk tawakkal, karena tawakkal adalah bersandar kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala disertai melakukan ‘sebab’ yang diperbolehkan
atau diperintahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
memohonkan perlindungan untuk Al-Hasan dan Al-Husain dengan doa:
“Aku
memohon perlindungan bagi kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah
yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan dari setiap
pandangan yang jahat.”
Demikian pula yang dilakukan Nabi Ibrahim
‘alaihis salam terhadap kedua putranya, Nabi Ishaq dan Nabi Isma’il
‘alaihimas salam. (Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/165-166)
Betapa
ayah dan ibu akan berduka bila pandangan mata itu menimpa buah hatinya.
Tentu mereka akan berusaha sekuat tenaga di atas jalan Allah dan
Rasul-Nya untuk menghindarkannya, jauh sebelum ‘ain itu datang menerpa.
Buah hati tercinta, semogalah selamat selamanya.
Wallahu a’lamu bish shawab.
Sumber:
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=133