Friday, May 30, 2014

LAporan Tekstur Tanah

I.    PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Pada tanah yang tersebar luas ditemukan berbagai perbandingan susunan butiran tanah. Suatu susunan butiran menentukan sifat-sifat fisik tertentu pada tanah. Demikianlah dikenal berbagai kelas-kelas susunan butiran tanah yang disebut kelas tekstur tanah.
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara ketiga fraksi tanah, yaitu fraksi pasir, debu dan liat. Perbandingan ketiga fraksi tersebut menentukan kekasaran dan kehalusan suatu tanah untuk kepentingan pertanian, maka tanah yang ideal adalah tanah yang mempunyai perbandingan yang komposisional diantara ketiga fraksi tersebut.
Tekstur tanah merupakan suatu sistem mekanik yang kompleks dan terdiri atas tiga fase, yaitu padat, cair dan gas. Fase padat yang hampir 50 % menempati volume tanah yang terdiri atas bahan-bahan mineral dan organik. Dalam tanah terdapat pori-pori tanah yang berbeda antara butiran fase padat yang diisi oleh fase cair dan gas. Data tekstur juga sangat penting untuk tata evaluasi air tanah, retensi air, konduktifitas dan kekuatan tanah.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu suatu pengamatan untuk mendapat pengetahuan tentang tekstur tanah dan struktur tanah, dimana tekstur adalah ciri tanah yang paling permanen dan paling penting untuk diketahui karena sangat berpengaruh terhadap jenis-jenis tanaman yang sangat cocok tumbuh.

1.2. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kelas tekstur tanah dengan perbandingan antara fraksi liat, fraksi debu, dan fraksi pasir pada lapisan tanah serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.                            Kegunaan praktikum ini yaitu sebagai bandingan informasi untuk membedakan kandungan tekstur tanah yang ada dilapangan dengan di laboratorium dengan menggunakan metode laboratorium.
                                    II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1.            Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah perbandingan berat nisbi fraksi pasir, debu, dan liat. Suatu kelas tekstur mempunyai batas susunan tertentu dari fraksi paasir, debu, dan liat. Pembagian kelas tekstur tanah menurut USDA dikenal adalah 12 tekstur (Yulius dkk, 1997).                                                                                                                                      
Tekstur tanah adalah sifat halus atau kadar butiran tanah. Kasar atau halusnya tanah ditentukan oleh pebandingan antara pasir, debu, dan liat yang terdapat didalam tanah. Tekstur tanah juga memberikan pengertian persentase relatif dari ketiga unsur batuan yaitu: pasir, geluh, dan lempung.   (Prawirahartono, dkk, 1991).
Ukuran relatif partikel tanah dinyatakan dalam istilah tekstur, yang mengacu pada kehalusan atau kekasaran tanah. Lebih khasnya, tekstur adalah perbandingan relatif pasir, debu, dan tanah liat. Laju dan berapa jauh berbagai reaksi fisika dan kimia penting dalam pertumbuhan tanaman diatur oleh tekstur karena tekstur ini menentukan jumlah permukaan tempat terjadinya reaksi (Foth, 1994).
Di dalam tanah ditemukan butir-butir primer tanah berbagai ukuran yang dapat dikelompokkan sebagai fraksi tanah halus (fine earth fraction) dan fragmen batuan (rock fragment). Fraksi tanah halus adalah fraksi tanah berukuran < 2 mm yang terdiri dari pasir (50 µ - 2 mm), debu (2 µ - 50 µ), dan liat (< 2 µ)      (Sutedjo dan Kartasapoetra, 2002).


Fragment batuan adalah fraksi tanah berukuran ≥ 2 mm hingga ukuran horizontalnya lebih kecil dari sebuah pedon (kerikil, kerakal, dan batu-batu kecil). Kecuali itu, sering ditemukan juga fragmen batuan semu (para rock fragment) yang berukuran sama dengan batuan, tetapi dapat hancur menjadi > 2 mm pada persiapan tanah untuk analisa, sehingga dianggap sebagai fraksi tanah halus (Hardjowigeno, 2003).
Tanah-tanah yang bertekstur pasir butiran-butirannya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat (misalnya setiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara. Tanah-tanah bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno, 2002).
Telah diketahui bahwa pasir dan debu berasal dari pecahnya butir-butir mineral tanah yang ukurannya berbeda-beda dari satu jenis tanah dengan jenis tanah yang lain. Luas permukaan debu jauh lebih besar dari luas permukaan pasir per gram. Tanah-tanah yang memiliki kemampuan besar dalam memegang air adalah fraksi liat. Sedangkan tanah-tanah yang mengandung debu yang tinggi dapat memegang air tersedia untuk tanaman. Fraksi liat pada kebanyakan tanah terdiri dari mineral-mineral yang berbeda-beda komposisi kimianya dan sifat-sifat lainnya dibandingkan dengan pasir dan debu (Hakim, dkk. 1986).


2.2.            Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tekstur Tanah
Iklim merupakan rerata cuaca pada jangka panjang minimal permusim atau perperiode. Pada suatu waktu berjangka pendek misalnya harian, mingguan, bulanan dan maksimal semusim atau seperiode. Pengaruh curan hujan ialah sebagai pelarut dan pengangkut maka air hujan akan mempengaruhi: (1) komposisi kimiawi mineral penyusun tanah, (2) kedalaman dan diferensiasi profil tanah,  (3) sifat fisik tanah. Pengaruh temperatur setiap kenaikan temperatur akan meningkatkan penigkatan laju reaksi kimiawi menjadi 2 kali lipat. Meningkatkan pelapukan dan pembentukan liat terjadi seiring dengan peningkatan temperatur. Hubungan antara temperatur dan pertumbuhan tanaman serta akumulasi bahan organik cukup kompleks. Kandungan bahan organik tanah adalah jumlah antara hasil penambahan bahan organik, laju mineralisasi bahan organik dan kapasitas tanah melidungi bahan organik dari mineralisasi (Hanafiah, 2005).
Tofografi yang dimaksud adalah konfigurasi permukaan dari suatu area/wilayah. Perbedaan tofografi akan mempengaruhi jenis tanah yang terbentuk pada daerah lereng infiltrasi. Sedangkan pada daerah datar/rendah, menerima kelebihan air yang menyediakan air lebih banyak untuk proses genesis tanah.
 Ada dua jenis pengaruh penyebab tofografi yaitu:
§  Pengaruh slope/lereng
Kemiringan lereng berpengaruh pada genesis tanah. Semakin tanah curam lereng makin besar erosi tanah. Hal yang mengakibatkan terhambatnya genesis tanah oleh karena  pertumbuhan tanaman terhambat dan sumbangan bahan organik juga lebih kecil, pelapukan menjadi terhambat begitu pula dengan pembentukan liat. Disamping itu, pencucian dan eluviasi berkurang. Dengan kata lain tanah lebih tipis dan kurang berkembang di daerah lereng.
·           Pengaruh tinggi muka air dan drainase
Tanah mempunyai drainase baik pada slope yang muka air tanah jauh di bawah permukaan tanah. Tanah yang berdrainase buruk ditandai dengan muka air yang muncul di permukaan tanah yang menyebabkan terjadinya kondisi aerobik dan reduksi. Tanah yang berdrainase buruk mempunyai horison A biasanya berwarna gelap oleh karena tingginya bahan organik, tapi horison bawah pemukaannya cenderung kelabu. Tanah berdrainase baik, mempunyai horison A yang warnanya lebih terang dan horison bawahnya seragam lebih gelap (Hanafiah, 2005).



Fungsi utama organisme hidup adalah untuk menyediakan bahan organik bagi tanah. Humus akan menyediakan nutrisi dan membantu menahan air. Tumbuhan membusuk akan melepaskan asam organik yang meningkatkan pelapukan kimiawi. Hewan penggali seperti semut, cacing, dan tikus membawa partikel tanah ke permukaan dan mencampur bahan organik dengan mineral. Lubang-lubang yang dibuat akan membantu sirkulasi air dan udara, meningkatkan pelapukan kimiawi dan mempercepat pembentukan soil. Mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan protozoa membantu proses pembusukan bahan organik menjadi humus (Hanafiah, 2005).
Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah (dinamis) sehingga akibat pelapukan dan pencucian yang terus menerus maka tanah tanah yang semakin tua juga akan semakin kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan maka bahan induk tanah berubah berturut turut menjadi tanah muda, tanah dewasa dan tanah tua. Tanah muda hasil pembentukan horizon C dan horizon A. Tanah dewasa yaitu hasil pembentukan horizon B yang masih muda (Bw). Tanah tua merupakan tanah dari hasil pencucian yang terus menerus berlanjut sehingga tanah tersebut menjadi kurus dan masam. Perlu diketahui bahwa tingkat perkebangan  tanah tidak setara dengan tingkat pelapukan tanah. Tingkat perkembangan tanah berhubungan dengan perkembangan horizon horizon tanah, sedangkan tingkat pelapukan tanah berhubungan dengan tingkat pelapukan mineral dalam tanah (Hardjowigeno, 2003).
Pembentuk bahan induk yang terbentuk dari batuan induk keras di dominasi oleh proses disentegrasi secara fisik dan dekomposisi kimiawi partikel mineral dalam batuan tersebut. Bahan induk yang berasal dari batu pasir. Pada batu kapur tanah terbentuk dari sisa-sisa bahan yang tidak larut setelah kalsium dan magnesium karbonat terlarut dan terkunci. Liat adalah bahan yang dapat ditemui pada batu kapur, yang kemudian menjadikan tanah bertekstur halus. Bahan induk yang di turunkan dari sedimen dibawah oleh air. Sedimen alluvial  terjadi pada lereng terjal dimana gravitasi adalah kekuatan utama yang menyebabkan gerakan dan sedimentasi. Sedimen alluvial adalah bahan induk yang penting di areal bergunung/berbukit dan ditemui dimana-mana oleh karena penyebaran oleh banjir dan sungai. Bahan induk yang tersusun 100% pasir kuarsa tidak akan hancur untuk mengahasilkan partikel koloid. Bahan induk yang bertekstur pasir akan mendukung perkembangan horison bahasa daerah (humid). Bahan induk yang tersusun atas partikel inter media akan berkembang menjadi berbagai jenis tanah. Tekstur dan struktur tanah akan mempengaruhi genesis tanah melalui proses infiltrasi dan erosi. Permeabilitas dan translokasi material dalam air, proteksi dan akumulasi bahan organik dan ketebalan solum (Foth, H.D. 1990).


           



III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum analisis ukuran partikel (Tekstur) dilaksanakan pada hari Selasa,        12 November 2013, pada pukul 13.00 WITA – selesai di Laboratorium Kimia Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
3.2. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum analisis ukuran partikel (Tekstur) adalah timbangan/neraca, botol tekstur 1000 ml, cawan  1 buah, sprayer, corong,  saringan 0,05 mm, mesin pengocok (mixer),  pengaduk, silinder sedimentasi, desikator, hidrometer, termometer, dan oven.
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum analisis ukuran partikel (Tekstur) adalah sampel tanah kering udara, larutan Calgon 0.05%, aquadest, tissu rol, dan kertas label.
3.3. Prosedur Kerja
Urutan kerja pada praktikum yang telah dilakukan adalah :
-     Menghaluskan sampel tanah kering udara.
-     Menimbang 20 gram tanah kering udara, dengan  butir-butir tanah berukuran kurang dari 2 mm.
-     Memasukkan tanah tersebut ke dalam botol tekstur dan menambahkan 10 ml larutan Calgon 0.05%  dan aquadest secukupnya
-     Mengocok  dengan mesin pengocok selama ± 5 menit.
-     Menuangkan secara kualitatif semua isinya ke dalam silinder sedimentasi 1000 ml yang diatasnya dipasangi saringan dengan diameter lubang sebesar 0.05 mm dan membersihkan botol tekstur dengan bantuan botol semprot.
-     Menyemprot dengan sprayer sambil mengaduk-aduk semua suspensi yang masih tinggal pada saringan sehingga semua partikel debu dan liat telah turun (air saringan telah jernih).
-     Memindahkan pasir yang tertinggal ke dalam cawan kemudian memasukkan ke dalam oven bersuhu 1050C selama 2 x 24 jam, selanjutnya memasukkannya ke dalam desikator dan menimbangnya hingga berat pasir diketahui.
-     Mencukupkan larutan suspensi dalam silinder sedimentasi dengan air destilasi hingga 1000 ml.
-     Mengangkat silinder sedimentasi, menyumbat baik-baik dengan karet lalu mengocok dengan membolak-balik tegak lurus 1800C sebanyak 20 kali.
-     Menuangkan 3 tetes amyl alkohol ke permukaan suspensi untuk menghilangkan gangguan buih yang mungkin timbul.
-     Memasukkan hidrometer ke dalam suspensi dengan hati-hati setelah 15 menit
-     Setelah 40 detik, membaca dan mencatat pembacaan hidrometer pertama (H1) dan suhu suspensi (t1).
-     Mengeluarkan hidrometer dari suspensi dengan hati-hati
-     Setelah menjelang 8 jam, memasukkan hidrometer dan mencatat pembacaan hidrometer kedua (H2) dan suhu suspensi (t2).
-     Menghitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan :
Berat debu dan liat =      -     0,5  .............(a)
Berat liat               =                 ............(b)
Berat debu              = Berat (debu + liat) – Berat liat  ...........(a+b)
1.      Menghitung persentase pasir, debu, dan liat dengan persamaan :
% Pasir                  =  x 100 %
% Debu     =  x 100 %
% Liat                   =  x 100 %
2.      Masukkan nilai yang didapat ke dalam segitiga tekstur
            

 http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT4eCN4CSS20i6syBe3FP6xDYlGvi424n_5DYVDR-EfjlSE1CEQ
                  Gambar segitiga tekstur (USDA)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Berdasarkan analisis dan perhitungan yang dilakukan di laboratorium, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1.  Hasil Analisis Perhitungan Tekstur Tanah
Lapisan Tanah
Persentase (%)
Bentuk Tekstur
Pasir
Debu
Liat
I
2,00
30,12
67,87
Liat
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2013.
4.2 Pembahasan
Dari data yang diperoleh diatas dapat dijelaskan bahwa tanah pada lapisan pertama mengandung fraksi pasir sebanyak 2,00%, debu 30,12%, dan liat 67,87% yang dimana jika hasil yang didapat dimasukkan ke dalam segitiga tekstur maka bentuk teksturnya berupa liat. Menurut pendapat Pairunan, dkk (1985), menyatakan bahwa tanah yang mengandung 40% liat atau lebih dimasukkan kedalam kelas tanah bertekstur liat.
Pada lapisan I persentase fraksi liat lebih besar dari pada persentase fraksi debu dan pasir. Sehingga lapisan I memiliki tekstur liat (clay). Lapisan tersebut bertekstur liat karena persentase liatnya lebih besar dari 50 % sehingga tanah tersebut termasuk dalam tekstur liat. Hal ini sesuai dengan pendapat Foth (1998), bahwa  apabila  persentase  kejenuhan  suatu  tanah  lebih  dari 50 %   maka  tanah

tersebut termasuk dalam tekstur liat dan juga disebabkan oleh tingkat pelapukan  yang masing-masing lapisan yang relatif besar dan kemampuannya mengikat air. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Darmawijaya (1990) bahwa, perbedaan persentase penyusun suatu tanah dipengaruhi oleh kemampuan penyusun tanah mengikat air yang tinggi.
            Tekstur liat merupakan tekstur yang halus. Hal ini dikemukakan oleh Hardjowigeno (2003), bahwa tanah bertekstur liat karena lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar, sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur liat lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur pasir.





V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut.
-          Lapisan I pada profil tanah dalam di lahan perkebunan termasuk dalam terkstur lempung berpasir dengan persentasenya yaitu persentase pasir sebesar 62,1 %, persentase debu sebesar  30,2 %, persentase liat sebesar 68,1 %,
-          Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah yaitu mineral/bahan induk, umur relatif tanah, kemampuan tanah menyimpan air, drainase, tata udara, dan pengikatan unsur hara.
5.2  Saran
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan maka  pada lahan ini sebaiknya perlu dilakukan pengolahan tanah karena tanah ini termasuk kurang subur terutama untuk lahan perkebunan. Selain itu, saran yang dapat diberikan yaitu dari hasil pengamatan tekstur tanah ini maka dapat dijadikan tolak ukur kesuburan dan ketahanan tanah sebelum dijadikan media untuk menanam jenis tanaman yang di inginkan.







DAFTAR PUSTAKA
Darmawijaya, M.I. 1990. Klasifikasi Tanah: Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian  di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas. Press. Bulaksumur.
Foth, Hendry D. 1990. Dasar-Dasar Ilmu TanahErlangga, Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
           . 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga, Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
           . 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga, Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
Hakim, N., M. Yusuf Nyakpa, A. M. Lubis, Sutopo Ghani Nugroho, M. Amin Diha, Go Ban Hong, H. H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung
Hanafiah, Ali Kemas.  2005.  Dasar-dasar Ilmu Tanah.  Raja Grafindo Persada: Jakara.
Hardjowigeno, H. Sarwono. 2002,  Ilmu Tanah, Mediyatama Sarana Perkasa: Jakarta.
            . 2003,  Ilmu Tanah, Mediyatama Sarana Perkasa: Jakarta.
Pairunan, dkk. 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negri Indonesia Timur: Makassar.
Prawirohatono, 1991. Genesa Tanah. “Batuan Pembentuk Tanah”. Penerbit CV. Rajawali: Jakarta
Sutedjo, M.M. dan Kartasapoetra, A.G. 2002. Pengantar Ilmu Tanah, Rineka Cipta, Jakarta.
Yulius, A.K.P. Nanera, J.L. Ibrahim, Samosir, S.S.R. Tangkaisari, R. Lalopua, B., Asmadi, H.  1997. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negara, Ujung Pandang.




VI. LAMPIRAN
6.1  Lapisan I
Dik : c = 0,1 gram
§  Berat debu dan Liat                =           (a)
Berat debu dan Liat                =
Berat debu dan Liat                =
Berat debu dan Liat                =
Berat debu dan Liat                =
Berat debu dan Liat                = 4,88 gram
§  Berat Liat                                            =           (b)
Berat Liat                                            =
Berat Liat                                            =
Berat Liat                                            =
Berat Liat                                            =
Berat Liat                                            =3,38 gram
§  Berat Debu                              = Berat (debu + liat) – Berat Liat       (a – b)
Berat Debu                              = 4,88 – 3,38
Berat Debu                              = 1,5 gram



ü  % Pasir                                    =
                                                            =
                                                            = 2,00 %
ü  % Liat                         =
                                                            =
=
= 67,87 %
ü  % Debu                                   =
                                                            =
                                                            =
                                                            = 30,12%


laporan Profil Tanah

I. PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang tampak secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara. Secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biogas dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.
Fungsi utama tanah adalah sebagai media tumbuh makhluk hidup. Proses pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk (regolit) menjadi bahan induk tanah yang berbeda sifat fisiknya.
          Secara vertikal tanah berdiferensiasi membentuk horizon-horizon (lapisan-lapisan) yang berbeda-beda baik dalam morfologis seperti ketebalan dan warnanya, maupun karakteristik kimia kimia, fisik, dan biologis masing-masing. Pada hal ini profil tanah merupakan irisan tanah dari lapisan paling atas hingga ke bebatuan induk tanah (regolit) yang biasanya terdiri dari horizon-horizon O-A-E-B-C. Empat lapisan teratas yang masih dipengaruhi oleh cuaca disebut solum tanah.



Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan praktikum lapangan tentang profil tanah untuk lebih meningkatkan pemahaman kita terhadap tanah sebagai media tumbuh tanaman. Pengamatan profil tanah ini juga dilaksanakan dalam langkah awal penelitian dan pengamatan terhadap tanah.
1.2.       Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum profil tanah ini adalah untuk mengetahui sifat fisik, kimia, biologi pada tanah. Dengan mengetahui sifat-sifat dan perilaku tanah akan dapat diketahui pula tentang tanaman apa yang sesuai dengan jenis tanah pada lokasi praktikum dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu agar kita sebagai mahasiswa atau dengan pembaca dapat mengetahui dan membedakan tiap-tiap horizon tanah dengan melihatnya secara langsung di lapangan serta mengamati karaktristik masing-masing horizon pada lapisan tersebut.











II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.    Proses Pembentukan Tanah
Tanah adalah bahan mineral yang tidak padat (unconsolidated) terletak di permukaan bumi, yang telah dan akan tetap mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan yang meliputi bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu), organisme (makro dan mikro) dan topografi pada suatu periodewaktu tertentu (Darmawijaya, 1990).
Proses pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk (regolit) menjadi bahan induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik yaitu sisa-sisa tumbuhan yang dilapuk oleh mikroorganisme dengan bahan mineral dipermukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas kebagian bawah dan berbagai proses lain, sehingga apabila kita menggali lubang pada tanah maka akan terlihat lapisan-lapisan tanah yang berbeda sifat fisik, kimia, dan biologinya, lapisan-lapisan inilah yang disebut dengan horizon tanah yang terbentuk dari mineral anorganik akar. Susunan horizon tanah tersebut biasa disebut profil tanah (Anonim, 2012).






2.2.    Profil Tanah
Profil Tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tekanan pori diukur relatif terhadap tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah. Tanah yang diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada rongga-rongga udara (Hakim, 2007).
          Horizon O adalah lapisan teratas yang hampir seluruhnya mengandung bahan organik. Tumbuhan daratan dan jatuhan dedaunan termasuk pada horison ini. Humus dari horizon O bercampur dengan mineral lapuk untuk membentuk horison A, soil berwarna gelap yang kaya akan bahan organik dan aktivitas biologis, tumbuhan ataupun hewan. Dua horison teratas ini sering disebut topsoil (Hanafiah, 2007).
            Profil tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas sehingga ke bebatuan induk tanah (regolit), yang biasanya terdiri horizon-horizon O-A-E-B-C-R. Empat lapisan teratas yang masih dipengaruhi cuaca disebut Solum Tanah, horizon O-A disebut lapisan tanah atas dan horizon E-B disebut lapisan tanah bawah (Hanafiah, 2009).
Keterangan:
-          Horison O       : yaitu merupakan sisa- sisa tanaman (serasah) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dari komposisi serasah (Oa)
-          Horison A       : yaitu horison mineral bahan organik tanah yang membuat tanah agak gelap.
-          Horison E        : merupakan horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga bahan organik, liat silikat, Fe, dan Al, menjadi rendah.
-       Horison B        : yaitu merupakan horison illuvial atau tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari horison dasarnya.
-       Horison C        : yaitu lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) dan belum terjadi perubahan.
-       Horison R        : merupakan horison dengan batuan induk.
Pengenalan profil tanah secara lengkap meliputi sifat fisik, kimia, biologi tanah dimana pengenalan ini sangat penting dalam mempelajari pembentukan dengan klasifikasi tanah dengan pertumbuhan serta tata cara pengolahan tanah yang lebih tepat berdasarkan kandungan bahan organik tanah (Foth H.D, 1991)
         



2.3.    Tanah Alfisol
          Alfisol banyak ditemukan di daerah yang beriklim sedang, tetapi dapat pula ditemukan di daerah tropika dan subtropika terutama ditempat-tempat dengan pelapukan sedang. Alfisol ditemukan di daerah-daerah datar sampai berbukit. Proses pembentukan alfisol memerlukan waktu yang lama karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk horizon argilik. Alfisol terbentuk dari bahan induk yang mengandung karbonat dan tidak lebih dari pleistosin. Di daerah dingin hampir semua berasal dari bahan induk berkapur yang masih muda. Di daerah basah bahan induk berkapur yang masih muda. Di daerah basah bahan induk biasanya lebih tua daripada di daerah dingin. Alfisol merupakan tanah yang subur, banyak digunakan untuk pertanian, rumput ternak, atau hutan. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, kapasitas tukar kation tinggi, cadangan unsur hara tinggi (Rahmawati, 2012).



III. KEADAAN UMUM LOKASI
3.1.    Letak Astronomis dan Geografis
Praktikum dilaksanakan di Teaching Farm, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan titik pengamatan profil berada pada 5º  7’ 39, 07” LS 119º  28’ 53,13” BT.
Letak lokasi Teaching Farm yaitu:
-     Sebelah utara                             : Laboratorium Peternakan
-     Sebelah  selatan                         : Politeknik Negeri Ujung Pandang
-     Sebelah timur                             : Kebun Percobaan Agronomi
-     Sebelah Barat                            : Kebun Percobaan Proteksi
3.2. Penggunaan lahan
Lahan disekitar  tempat pengamatan profil tersebut digunakan sebagai lahan perkebunan dan didominasi tanaman hortikultura seperti buah naga, dan ubi. Sistem pengelolaan lahannya masih tradisional serta sistem pergiliran tanamannya yaitu rotasi.



IV. METODOLOGI
4.1.       Waktu dan Tempat
Praktikum pengamatan profil tanah dilakukan di Teaching Farm, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin pada hari Sabtu, 19 Oktober 2013, pukul 09.00 WITA-selesai dan dilanjut pada hari Minggu, 20 Oktober 2013, pukul 08.00 WITA-selesai  untuk pengamatan profil tanah.
4.2.    Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam pengamatan profil tanah adalah sebagai berikut:
-          Cangkul                                   -   Kamera
-          Linggis                                    -   Global Position System (GPS)
-          Pisau/Cutter                -    Papan
-          Meteran                                   -   Skop
-          Ring Sampel
Adapun bahan yang digunkan dalam pengamatan profil tanah adalah sebagai berikut:
-    Kantong Plastik
-     Spidol
-     Kertas Label
-     Karet Gelang
-     Daftar Isian Profil (DIP)
4.3.    Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pelaksanaan pengamatan profil tanah adalah sebagai berikut:
4.3.1. Pengamatan Profil Tanah
a.    Mengukur penampang 1,5 m x 1 m sampai bahan induk dan pemeriksaan di sisi lubang penampang ruang mendapat sinar matahari.
b.    Tanah bekas galian jangan ditumpuk di atas sisi penampang pemeriksaan.
c.    Penampang pewakil adalah tanah yang belum mendapat gangguan, misalnya timbunan serta jauh dari pemukiman.
d.   Jika berair, maka air yang berada dalam penampang harus dikeluarkan      sebelum pengamatan.
e.    Melakukan pengamatan pada sinar matahari cukup (tidak terlalu pagi atau sore).
f.     Profil tanah yang diamati harus berahdapan dengan sinar matahari agar profil tanah yang diamati mudah dibedakan warnanya.






4.3.2. Pengambilan Sampel Tanah
Pengambilan sampel tanah melalui dua cara sebagai berikut:
4.3.2.1. Pengambilan Sampel Tanah Terganggu
Prosedur pengambilan sampel tanah terganggu sebagai berikut:
a.       Mengambil tanah dengan sendok tanah atau cutter sesuai dengan lapisan yang akan diambil.
b.      Masukkan kedalam kantong plastik gula yang telah diberi label.
4.3.2.2. Pengambilan Sampel Tanah Utuh
Prosedur pengambilan sampel tanah utuh sebagai berikut:
a.    Meratakan dan membersihkan lapisan yang akan diambil, kemudian meletakan ring sampel tegak lurus (bagian runcing menghadap ke bawah) pada lapisan tanah tersebut.
b.    Menekan ring sampel sampai ¾ bagiannya masuk ke dalam tanah.
c.    Meletakkan ring sampel lain tepat di atas ring sampel pertama, kemudian tekan lagi sampai bagian bawah dari ring sampel kedua masuk ke dalam tanah (10 cm).



d.   Menggali ring sampel beserta tanah di dalamnya dengan skop atau linggis.
e.    Memisahkan ring sampel kedua dari ring sampel pertama dengan     hati-hati, kemudian potonglah kelebihan tanah yang ada pada permukaan dan bawah ring sampel sampai permukaan rata dengan permukaan ring sampel.
f.     Menutup ring sampel dengan plastik, lalu simpan dalam kotak khusus yang sudah disediakan.
g.    Sampel yang diambil tidak boleh rusak, apabila terjadi kerusakan seperti retak, maka harus mengambil ulang sampel.



V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, maka diperoleh hasil pengamatan seperti pada tabel 1 berikut:
Tabel 1. Hasil Pengamatan Profil Tanah
Parameter Pengamatan
Lapisan
I
II
III
Kedalaman lapisan
0-46 cm
46-101 cm
101-137 cm
Batasan lapisan
Berangsur
Berangsur
Berangsur
Topografi batas lapisan
Berombak
Berombak
Berombak
Warna
          Coklat Gelap
Coklat +
Coklat ++
Tekstur
Pasir Berlempung
Lempung
Lempung Berdebu
Struktur
Sangat Kasar
Kasar
Halus
Konsistensi
Kering teguh
Lembab gembur
Lembab lepas
Karatan
-
-
-
Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2013 
Adapun data hasil pengamatan tentang penggunaan dan pemanfaatan jenis tanah pada lokasi pengamatan profil tanah dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Deskripsi Pengamatan Lokasi Pengambilan Sampel Di Teaching Farm, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar
Parameter Pengamatan
Keterangan
Penggunaan Tanah
Perkebunan
Jenis Penggunaan
Hortikultura dan Pangan
Tanaman Utama
Buah Naga
Sistem
Rotasi
Pegolahan
Tradisional
Sumber Air
Pompa dan Sumur
Sumber : Data Primer, 2013

5.2.      Pembahasan
Karakteristik yang dimiliki dalam tiap-tiap lapisan tanah yang diperoleh di lapangan. Berikut pembahasan karakteristik tanah pada tiap lapisannya:
Lapisan I Memiliki kedalaman lapisan 0-46 cm dimana batas lapisannya tergolong berangsur. Topografi lapisannya termasuk berombak karena terjadinya suatu pelapukan, entah itu pelapukan secara fisik ataupun secara biologi. Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim, dkk (2007) bahwa bentuk topografi dari suatu tanah dipengaruhi oleh waktu pelapukan baik secara fisik, kimia, maupun biologi.
Lapisan II Lapisan ini memiliki kedalaman 46-101 cm, batasan lapisan berangsur disebabkan karena adanya perbedaan kedalaman tanah pada tiap lapisan dalam proses pencucian dimana pada saat hujan, air tersebut akan mengalir turun ke lapisan bawah bersama dengan mineral tanah dengan kecepatan yang tinggi sehingga menyebabkan adanya perbedaan horison sedangkan untuk batasan topografi lapisannya tergolong berombak. Tekstur dari lapisan ini yaitu lempung berdebu dengan strukturnya yang sedang dimana Pairunan dkk (1985) mengatakan bahwa struktur granular adalah struktur tanah yang sangat ideal untuk pertanian lahan kering karena struktur ini diperoleh dengan keadaan aerasi baik, kemampuan menyimpan air yang tersedia bagi tanaman yang besar, kegemburan tanah memudahkan pengolahan dan pertumbuhan akar yang optimum, serta drainase yang baik.


Lapisan III Lapisan terakhir ini memiliki kedalaman 101-137 cm, dengan topografi batas lapisan yang berombak, tak jauh beda dengan lapisan sebelumnya. Lapisan ini memiliki tekstur lempung berdebu dikatakan demikian karena pada saat pengambilan profilnya strukturnya halus. Disamping itu, lapisan ini juga memiliki konsistensi yang tidak plastis yang dimana dari tiap lapisan tanah memiliki tingkat konsistensi yeng berbeda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan daya lekatnya. Luckman dan Brady (1982) mengatakan bahwa daya lekat tanah bertambah besar dengan besarnya kandungan liat. Pada lapisan ini juga tidak ada karatan.
Karatan merupakan hasil pelapukan batuan tanah yang dipengarui oleh adhesi dan kohesi. Karatan berwarna hitam mengandung banyak Mn, berwarna kuning mengandung banyak Mg. sedangkan warna merah banyak mengandung Fe. Dari hasil pengamatan baik lapisan I, II, maupun lapisan III seluruhnya memilki karatan berwarna merah. Sejalan dengan pendapat Foth (1988) karatan yang berwarna merah banyak mengandung Fe, maka empat lapisan tanah yang diamati mengandung banyak Fe.
           



VI. PENUTUP
6.1.      Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum profil tanah yaitu sebagai berikut:
-Batas lapisan antar tanah dapat berbentuk rata, berombak, tidak teratur, atau terputus.
-Tanah tempat pengambilan profil tanah berupa tanah alfisol
-Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah pada pengmatan profil tanah yaitu, iklim, organisme, bahan induk, topografi dan waktu.
6.2.      Saran
Untuk hasil praktikum profil tanah ini diharapkan akan bermanfaat untuk para pembaca dan dapat menjadi sumber acuan praktikum profil tanah selanjutnya. Selain itu, tanah tempat praktikum profil tanah sangat bagus potensi tanahnya sehingga perlu dijaga dan dikembangkan



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Laporan Profil Tanah. khaeriyah-indahnyaberbagi.blogspot.com dalam www.google.com diakses pada 27 Oktober 2013. Pukul: 16.07 WITA.
Buckman dan Brady, 1982.  Konsistensi Tanah. Brawijaya: Surabaya.
Darmawijaya, M.I. 1990. Klasifikasi Tanah: Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian  di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas. Press. Bulaksumur
Foth, H.D. 1988. Fundamental Of Soil Science. John Willey & Sons: Inc. Singapore.
               . 1991. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Hakim. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung.
Hanafiah, Kemas A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
              . 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Kuswandi. 1993. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung: Lampung.
Pairunan, dkk. 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negri Indonesia Timur: Makassar.
Sarwono, Hardjowigeno. 1987. Ilmu Tanah. Akademika Presindo: Jakarta





LAMPIRAN
Daftar Isian Profil (DIP)
Beikut ini adalah data hasil yang diperoleh dari pengamatan profil tanah di lapangan.
a.    Nama lokasi                                      : Teaching Farm
b.    Letak lokasi                                      : 57’ 39,07” LS  dan 1190  28’ 53,13” BT
c.    Bentuk wilayah                                 : Gelombang
d.   Persen kelerengan                             : 0-3%
e.    Vegetasi
·      Kualitas                                                         : Baik
·      Kuantitas                                          : -
f.     Bahan induk                                     : -
g.    Kedalaman solum                             : 137 cm
h.    Kedalaman perakaran efektif           : 128 cm
i.      Batuan
·      Di permukaan                                   : -
·      Di dalam                                           : -
j.      Penggunaan tanah                             : -
k.    Jenis penggunaan                              : Perkebunan
l.      Tanaman
·      Utama                                                           : Buah Naga
·      Lain-lain                                            : Cabai dan Singkong
m.                     Sistem pertanaman                  : Rotasi
n.                       Pengelolaan                             : Tradisional
o.                       Sumber air                                           : Sumur dan bor
p.                       Sosial ekonomi masyarakat     : Menegah
q.                       Status tanah                            : Tanah milik negara


Gambar 1. Foto Hasil Galian Profil Tanah
(cari sendiri hehe)

Wednesday, January 29, 2014

cheat damage ninja saga terbaru 2014

Assalamu 'alaikum.... kawan-kawan gamers inililah trik one hit yang benar-banar terbukti
  1. assalamu 'alaikum.... kawan-kawan gamers inililah trik one hit yang benar-banar terbukti, KAWAN-KAWAN BISA COBA KARENA SANGAT MUDAH DIPAKAI. inilah tutorialnya
    1. Download and Install "Cheat Engine 6.4" 
    2. buka fb and Klik Ninja Saga Game
    3. Buka Cheat Engine
    4. Pilih process browser 
    • .Untuk mozilla pilih plugin adobe flash bagian ke-2
    • Untuk google chrome coba cari sendiri karena banyak sekali addresnya :)
      lihat gambar berikut: 



    • ingat nilai Hex awal adalah A2 25 E8 07 A3 A2 CO. setelah di dapatkan adress 2 (no. 6)  blok semua data itu, lalu lakukan (no.7) dan pada no. 8 klik nilai pas dibawah value maka akan muncul value ini A2 25 E8 07 A3 A2 CO ganti menjadi ini A2 25 E8 07 A9 A2 CO lalu enter. lalu klik nama player NS Anda dan klik play pada NS.